Pageblug 1918-1919. 7 Juta Warga Nusantara Tewas Kena Flu Spanyol

Antara tahun 1918-1918 Indonesia yang saat itu masih dijajah Belanda, bernama Hindia Belanda, pernah dilanda Pandemi Virus yaitu Flu Spanyol.

Virus flu ini sebenarnya berasal dari Amerika Serikat, dinamakan Flu Spanyol karena hanya kerajaan Spanyol yang saat itu memperingatkan negara-negara lain tentang bahaya pandemi Flu ini. Sedangkan negara-negara lain saat itu sibuk dengan Perang Dunia I. Spanyol tidak ikut perang.

Pandemi influenza 1918-19 adalah satu-satunya epidemi jangka pendek paling mematikan dari abad kedua puluh. Untuk Hindia Belanda (Indonesia), perkiraan kematian yang paling banyak digunakan dari pandemi itu adalah 1,5 juta.

Tapi sebuah studi baru memperkirakan kematian akibat pandemi influenza di Jawa dan Madura, rumah bagi mayoritas populasi di Hindia Belanda, menggunakan metode data panel dan data dari beberapa populasi kuinquennial dan dua sensus sepuluh tahun. Perkiraan studi baru menunjukkan bahwa, untuk Jawa saja, kehilangan populasi berada di kisaran 4,26-4,37 juta, atau lebih dari dua kali perkiraan kematian untuk seluruh Indonesia.

Sedangkan di luar Pulau Jawa dan Madura, diperkirakan ada 2- 2,5juta jiwa yang tewas.

Angka itu mengacu pada data-data laporan di Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (Jurnal Layanan Medis Sipil atau BGD; BGD 1920b), laporan-laporan lain dari BGD (1920a, 1922), dan Koloniale Verslagen (Laporan Kolonial, selanjutnya KV; Department van Zaken Oversee 1919, 1920).

Baca Juga:  Perang Jawa I : Perang Saudara Yang Mengubah Peta Sejarah Nusantara

Tingkat kematian di Hindia Belanda sama atau bahkan melebihi 10 persen:
6-12 persen untuk penduduk Ternate,
10 persen untuk pulau Tobelo,
dan 3-4 persen untuk Tapanoeli (KV 1919, kolom 175, Hoofdstuk K);

438 dari 4.052 kuli dengan tingkat 10,8 persen di Riouw dan Dependensi (KV 1919, kolom 69, Hoofdstuk C);

10 persen populasi di Gorontalo (KV 1919, kolom 75, 76, Hoofdstuk C);

Setidaknya 145 dari 750 penduduk Boela-baai (dengan laju 19,3 persen), 194 dari 900 penduduk Fak Fak (atau 21,6 persen), 372 dari 5.200 penduduk Kokes (atau 7,2 persen), dan tingkat 10 persen yang merupakan ‘aturan daripada pengecualian’ untuk populasi di Amahai (KV 1920, kolom 64, 65, Hoofdstuk B).

Karena tingginya angka kematian di Pulau Jawa. Generasi tua kakek nenek menyebutnya sebagai Pageblug. Saat satu jenazah dikuburkan, sudah datang jenazah yang lainya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan