Prabowo ke India, Bahas Kerjasama Militer dan Peluang Beli Rudal Brahmos

Prabowo melanjutkan safari-nya keliling dunia, kali ini Menteri Pertahanan mampir ke India.

Di negeri anak benua tersebut,Prabowo menjalin kesepakatan untuk memperluas kerja sama strategis di berbagai bidang termasuk, industri dan berbagi teknologi, dimana kedua negara tetangga maritim tersebut berkeinginan menyuntikkan momentum baru untuk kemitraan keamanan mereka.

Kemungkinan bidang perluasan hubungan pertahanan dan militer selanjutnya dibahas selama pembicaraan antara Menteri Pertahanan Rajnath Singh dan mitranya dari Indonesia, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, kata para pejabat.

Mencerminkan pentingnya Indonesia terkait dengan hubungan strategisnya dengan India, Menteri Subianto tiba di India pada hari Minggu (26/07) untuk mengadakan pembicaraan.

Sumber-sumber mengatakan masalah kemungkinan ekspor rudal jelajah BrahMos ke Indonesia oleh India dan cara-cara untuk lebih memperdalam kerja sama keamanan maritim menjadi hal yang menonjol dalam pembicaraan tersebut.

“Kedua menteri sepakat untuk lebih meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral di bidang yang disepakati bersama. Potensi bidang kerja sama di bidang industri pertahanan dan teknologi pertahanan juga diidentifikasi oleh kedua negara, “kata kementerian pertahanan India dalam sebuah pernyataan.

Dikatakan Menteri Singh dan Subianto berkomitmen untuk lebih memperkuat kerja sama bilateral di bidang-bidang ini dan membawa ikatan pertahanan ke “tingkat berikutnya.”

“Pertemuan berakhir dengan catatan positif dengan komitmen untuk lebih memperkuat dan memperluas ruang lingkup kerja sama bilateral antara kedua negara,” kata kementerian pertahanan India, tanpa memberikan rincian.

Baca Juga:  Presiden Duterte Izinkan Indonesia Ikut Gempur ISIS di Filipina Selatan

India dan Indonesia memiliki kerja sama yang kuat di bidang pertahanan dan keamanan.

Kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan baru pada tahun 2018 selama kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia. Pakta ini bertujuan untuk mencerminkan peningkatan hubungan antara kedua negara untuk kemitraan strategis yang komprehensif.

Dalam pembicaraan hari Senin lalu, Menteri Pertahanan Singh mengulangi sejarah panjang interaksi yang saling menguntungkan antara kedua negara dengan tradisi dialog politik yang erat, hubungan ekonomi dan perdagangan serta interaksi budaya dan orang-ke-orang.

Para pejabat mengatakan kedua belah pihak mengeksplorasi berbagai bidang untuk lebih memperluas kerja sama strategis termasuk di bidang industri pertahanan dan berbagi teknologi.

Dipahami bahwa sikap agresif Tiongkok di Ladakh timur dan Laut Cina Selatan menjadi perhatian dalam pembicaraan itu, tetapi tidak ada konfirmasi resmi tentang hal itu.

Sumber : theprint.in via FP TSM

5 Komentar

  1. Jenis rudal RamJet yg di luar negri anak anak SMK saja dgn bahan limbah, dan mesin se adanya, bisa membuat mesin Ramjet ini, kenapa di indonesia, mereka yg bergelar Insinyur, profesor bahkan sekelas peneliti, LIPI, LAPAN, UGM, ITB tidak mampu membuat mesin roket ramjet spt ini ?? Apakah sudah saking terbelakang nyakah tekhnology NKRI ??

    • Setahu gue, anak UGM dan ITB, sempet membuat rudal Pasopati.. Rudal berukuran kecil, 1 – 2 meter berukuran drone.. Entah mengapa, roket kendali hasil karya anak bangsa tersebut tidak dilanjutkan penelitiannya, oleh Lapan & Lipi.. Padahal bisa dilanjutkan, atau malah bisa diproduksi massal oleh PTDI, Dahana, dan Pindad, spt RHAN-122B atau NDL 40…

      • Yaaa entahlaah, negara ini spt kurang memberi perhatian pda individu/kelompok yg berpikir dan berusaha demi kemajuan bangsa. Mungkin itung2annya masih utk kantong pribadi. Mobil listrik yg udah jelas ada prototipe nya bisa jalan n lumayah tangguh aja dimatiin, apalagi ini senjata strategis.

    • Bismillah boleh juga kerjasama nya tuh dengan india pengembangan rudal brahmos,bisa dikombinasikan di kcr kita selain dipasar RBU 6000

    • Bukan ga bisa,tapi spt nya blm ada perhatian lebih dari pemerinta utk mengembangkan lebih jauh. Penelitian spt ini mahal, butuh waktu, biaya, dedikasi dan dukungan dr pemerintah. Banyak hasil penilitian n pengembangan dr insinyur2 kita yg cuma sampe prototipe krn kurang perhatian dr pemerintah.

Tinggalkan Balasan