Prabowo Tekan LOI Pembelian 36 Pesawat Tempur Rafale

Indonesia akan menyusul Qatar, Mesir, India, Yunani dan Kroasia sebagai pengguna pesawat Rafale buatan Perancis setelah menandatangani letter of intent, kontrak awal dalam perjanjian pembelian.

Menurut sumber lokal, kontrak awal Indonesia untuk pembelian 36 jet tempur Rafale baru ditandatangani pada 7 Juni saat kunjungan Florence Parly, yang disiapkan dengan sangat rahasia.

Kontrak ini akan berlaku efektif Desember mendatang karena beberapa detail masih harus diselesaikan. Pasal 43 Undang-Undang Industri Pertahanan yang diadopsi pada tahun 2012 (“Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan”) memberlakukan aturan IDKLO (countertrade, local content, dan offset), yaitu khususnya perhitungan kompensasi, dan integrasi komponen lokal menjadi produk luar negeri yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan kekuatan pertahanan dan keamanan.

Negosiasi rahasia

Selama kunjungannya ke Paris Oktober lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto menjelaskan kepada rekan-rekan Prancisnya tentang minat pemerintahnya terhadap Rafale. Februari lalu, delegasi Dassault melakukan perjalanan ke Indonesia untuk meninjau ketentuan kesepakatan dengan Kementerian Pertahanan. Pers kemudian menyebut pembelian 48 Rafale. Menurut beberapa laporan, para pemimpin Indonesia telah memutuskan untuk membeli “hanya” 36 Rafale, karena mereka juga akan membeli mengincar pesawat F-15 buatan AS sebagai kompensasi agar tidak mengecewakan Pentagon.

Paket keuangan akan serupa dengan yang diajukan ke Mesir, yaitu pinjaman yang dijamin sebesar 80% dari total nilai kontrak. Pekan lalu, semua industrialis dari “Tim Rafale” masih menahan napas.

Baca Juga:  Kapal Selam KRI Ardadedali-404 Segera Tiba Tahun Ini

Memang, sementara tawaran teknis dan keuangan telah diserahkan kepada pemerintah Indonesia, Kedutaan Besar Amerika Serikat baru saja meluncurkan serangan lobi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memblokir keputusan Jakarta. Dan ini untuk memungkinkan Lockheed membuat penawaran yang lebih menarik secara ekonomi agar F-16 Blok 72 bisa dibeli Jakarta.

Modernisasi tentara Indonesia

Instruksi presiden yang diterbitkan pada tahun 2008 menetapkan reformasi angkatan bersenjata Indonesia selama 15 tahun ke depan. Modernisasi ini melibatkan pembaruan peralatan, tidak hanya untuk angkatan laut tetapi juga untuk angkatan udara, dan melibatkan pesanan peralatan militer di luar negeri. Seperti helikopter H225M dari Airbus dan Bell 412 EPI, tetapi juga jet tempur modern. Di antara pesawat yang bersaing dengan Rafale adalah F-16 Blok 72, Su-35 Rusia, dan KF-X Korea Selatan. Pihak berwenang Indonesia juga berkeinginan memperoleh F-35, tetapi menemui penolakan halus dari pihak berwenang di Amerika Serikat.

Channel Militermeter

1 Komentar

Tinggalkan Balasan