Rusia Bangun Pangkalan Militer di Sudan

Rusia makin berambisi memperluas pengaruhnya, Presiden Rusia Vladimir Putin apda 16/11/2020 menandatangani perintah agar negara itu membangun pangkalan angkatan laut di pantai Laut Merah Sudan, pangkalan pertama di Afrika sejak akhir Perang Dingin.

Menurut instruksi Putin, Angkatan Laut Rusia akan membangun pangkalan untuk 300 personel dan dermaga untuk hingga empat kapal perang, termasuk kapal perang bertenaga nuklir.

Sudan menyewakan tanah untuk Rusia sebagai “pusat logistik” angkatan laut selama 25 tahun, dengan opsi perpanjangan selama satu dekade. Pensiunan Laksamana Viktor Kravchenko, mantan kepala staf Armada Maritim Militer Rusia (Voyenno-Мorskoi Flot — VMF), memperkirakan waktu pembangunan fasilitas tersebut akan memakan waktu tiga hingga empat bulan. Kompleks ini akan berlokasi di dekat pangkalan utama Angkatan Laut Sudan di Teluk Flamingo dan di utara Port Sudan, pelabuhan pantai utama negara di Laut Merah.

Dasar perjanjian tersebut dibangun di atas inisiatif diplomatik Rusia sebelumnya dengan Sudan.

Pada November 2017, presiden Sudan saat itu Omar al-Bashir, yang menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, mendiskusikan kemungkinan pembentukan pangkalan militer Rusia di negaranya selama pertemuan di Sochi dengan Putin dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.

Presiden al-Bashir kemudian digulingkan oleh kudeta militer pada tahun 2019, diskusi kemudian berlanjut dengan penggantinya, Letnan Jenderal Abdel Fattah Abdelrahman al-Burhan.

Dua tahun kemudian, pada 9 Januari 2019, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyetujui rancangan perjanjian dengan Sudan tentang prosedur yang disederhanakan untuk masuknya kapal perang ke pelabuhan kedua negara serta kerjasama militer bilateral yang lebih luas. Berdasarkan ketentuan perjanjian, bulan lalu (Oktober 2020), Rusia mentransfer kapal latih UK-307 dari VMF ke Sudan.

Baca Juga:  Panglima TNI: Demi Pancasila Apapun Akan Dilakukan

Penting untuk dicatat dimensi yang relatif sederhana dari fasilitas angkatan laut baru yang direncanakan itu, setidaknya pada awalnya. Menurut ahli militer Rusia dan spesialis Timur Tengah Iuri Liamin, “Pangkalan itu bukan pangkalan angkatan laut [yang lengkap] tetapi pusat dukungan logistik. Ini menyangkut jumlah, infrastruktur, dan peralatan”.

Namun, kepentingan strategis fasilitas itu akan melebihi ukurannya, karena pos terdepan AL Rusia di Sudan akan memperluas pengaruh maritim Rusia di timur laut Afrika, di sepanjang rute pelayaran penting di Laut Merah dan di Selat Bab el-Mandeb.

Tugas sementara yang dinyatakan untuk kapal perang Rusia yang dikerahkan di sana adalah untuk berpartisipasi dalam patroli anti-bajak laut di lepas pantai Somalia.
Sumber : jamestown.org/TSM

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan