Sekian Lama Ngandelin Pesawat Rusia, India Berharap Banyak Pada Jet Tempur Rafale Perancis

Pesawat pertama Rafale buatan Perancis telah diserahkan secara simbolis ke Angkatan Udara India (IAF) pada 8 Oktober 2019. Bagi India, kehadiran Rafale penting untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Udara yang selama ini keropos karena ngandelin pesawat buatan Soviet/Rusia yang makin tua dan susah spare partnya.

Padahal secara politik, India selalu bermusuhan diambang perang dengan dua tetangganya yaitu, Pakistan dan China.

Total ada 36 pesawat Rafale yang dipesan India dengan beragam tranfer teknologi di dalamnya, satu persatu pesawat akan tiba di India sampai 2021.
India adalah negara keempat setelah Perancis, Mesir dan Qatar, yang menerbangkan Rafale.

India sendiri telah membangun besar-besaran Angkatan Udaranya,

“Angkatan Udara India berada di jalur modernisasi yang cepat melalui akuisisi teknologi penting dan kemampuan kritis seperti pesawat tempur Rafale, rudal darat-ke-udara S-400 (sistem pertahanan dari Rusia), senjata presisi, elektronik canggih dan sistem peringatan awal,” kata Kastaf Angkatan Udara India R.K.S. Bhadauria.

Pesawat lama India, termasuk Mirage 2000 buatan Dassault dan Su-30MKI buatan Rusia, digolongkan sebagai pesawat tempur generasi ketiga atau keempat. Rafale dikategorikan sebagai jet tempur generasi keempat-plus berkat kemampuan teknologi siluman yang bisa mengelak dari radar.

Nama Rafale terbang tinggi saat Perancis ikut hadir menggulingkan Presiden Moammar Gadafi. Pesawat ini beberapa kali dilaporkan sukses mengelak dari kejaran rudal pertahanan udara S-300.

Baca Juga:  F-18 Super Hornet Dirancang Bisa Lepas Landas Dari Kapal Induk India

India sendiri yakin, kehadiran pesawat ini bisa meningkatakn daya deterren untuk membungkam dua tetangganya yang berisik di perbatasan, China dan India.

“Kehadiran Rafale akan meningkatkan berbagai kemampuan pertahanan kami. Ketika deterensi meningkat, kemungkinan konflik akan berkurang,” kata P.S. Ahluwalia, pensiunan marsekal udara AU India (IAF).

Masuknya Rafale sangat penting bagi IAF, yang akan segera menonaktifkan pesawat MiG-21 Bison dan segera bisa duduk sejajar dengan China dan Pakistan.

Sebagian besar jet pasukan Pakistan terdiri dari F-16 buatan AS selain beberapa JF-17 buatan kerjasama dengan China. Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China bahkan memiliki lebih dari 600 jet tempur generasi keempat dan kelima. China juga mengembangkan J-20 generasi kelima dalam persaingan dengan jet tempur generasi kelima AS seperti F-22 dan F-35 buatan Lockheed Martin Corp.

“Rafale jauh lebih baik daripada F-16 dan JF-17 dalam hal jangkauan, persenjataan, dan kemampuan peperangan elektronik,” kata Manmohan Bahadur, mantan mantan petinggi IAF.

Sumber: tempo.co

3 Komentar

Tinggalkan Balasan