September, Bulan Direbutnya Palestina Dari Turki Oleh Inggris

Hari ini 104 tahun yang lalu, pada tanggal 19 September 1918, Pertempuran Megiddo dimulai di Front Palestina, yang mengakibatkan kekalahan Kekaisaran Ottoman dalam Perang Dunia Pertama.

Pada musim panas 1918, pasukan Inggris di Front Palestina telah menerima bala bantuan yang signifikan, terutama tentara India, Jenderal Allenby coba gunakan untuk serangan terakhir yang menentukan untuk mengalahkan Ottoman.

Serangan utama ke arah barat dekat pantai Mediterania di Nahr el Faliq melawan Angkatan Darat ke-7 dan ke-8 Utsmaniyah. Setelah terobosan tercapai dan Utsmaniyah terpaksa mundur ke timur, pasukan Inggris dan Persemakmuran maju lebih jauh ke timur akan menyerang ke utara di Nablus untuk memblokir mundurnya Utsmaniyah dan mengepung mereka.

Kerahasiaan adalah bagian penting dari rencana Sekutu, dan banyak upaya dilakukan untuk menipu Ottoman kemana arah serangan mereka. Tentara “pengkhianat” Arab Utara dari Kubu Pemberontakan Arab Pro Inggris akan menyerang kota kereta api penting Daraa di Yordania untuk mengalihkan perhatian Turki dari pantai Mediterania.

Utsmaniyah mengantisipasi serangan itu, tetapi perang 4 tahun telah membuat unit mereka melemah dan kehilangan semangat, juga menderita kekurangan amunisi dan persediaan pangan. Pada tanggal 16 September 1918, pasukan Arab menyerang Daraa yg dikuasai pemberontak Arab, yang berhasil membuat pasukan Utsmaniyah bergerak menjauh dari pantai Mediterania

Pada 19 September 1918, setelah pengeboman artileri selama 12 menit yang intens, pasukan Persemakmuran Inggris dan India menyerang Nahr el Faliq dan menerobos garis Utsmaniyah. Korps Pegunungan Gurun Inggris segera maju ke utara, Pasukan Utsmaniyah tak mampu melawan mereka. Tentara ke-8 Utsmaniyah mundur ke utara sementara Tentara ke-7 mundur ke timur menuju Yordania, untuk mencegah pengepungan.

Baca Juga:  Duel Jet Tempur Amerika dan Sovyet Hampir Picu Perang Dunia III

Pada tanggal 21 September, pesawat Inggris melihat Pasukan Ustmaniyah mundur ke timur dan mulai menjatuhkan bom. Tentara ke-7 Ottoman secara efektif dihancurkan dalam waktu kurang dari satu jam. Nablus ditaklukan pada hari yang sama.

Pasukan Inggris bermaksud untuk memblokir Tentara ke-7 Utsmaniyah yang mundur, tetapi menghentikan kemajuan mereka begitu mereka menyadari bahwa pasukan itu telah dihancurkan secara efektif.

Sementara itu, Angkatan Darat ke-8 Utsmaniyah di pantai Mediterania mundur ke utara untuk membentuk garis pertahanan bersama Kelompok Tentara Yildirim Utsmaniyah di Samakh di tepi Laut Galilea.

Korps Pegunungan Gurun Inggris merebut kota Tasbor, Haifa dan Nazareth, sebelum menerobos Samakh pada 25 September.

Pasukan Inggris maju secara efektif tanpa perlawanan untuk merebut Damaskus pada 1 Oktober, yang menyebabkan 20.000 tentara Ottoman menyerah tanpa perlawanan.

Pada tanggal 26 Oktober, Aleppo ditaklukkan oleh unit Inggris dan Australia, tetapi mereka dihentikan di Mouslimmiye oleh pasukan Ustmaniyah di bawah Mustafa Kemal Atatürk.

Dengan situasi Ottoman yang tampaknya tidak ada harapan, dan Bulgaria telah menyerah pada 29 September, Ustmaniyah menandatangani Gencatan Senjata Mudros pada 30 Oktober 1918.

Dalam Pertempuran Megiddo, Persemakmuran Inggris telah menderita 5.343 korban jiwa, 782 di antaranya tewas dan 382 hilang dalam pertempuran. Rencana Inggris telah dieksekusi dengan cemerlang mengalahkan turki dengan cepat dan sejak itu telah dibandingkan dengan keberhasilan Blietzkrieg Jerman pada WW2, karena kecepatan dan elemen kejutnya.

Baca Juga:  Kisah Kehebatan Tatang Koswara di Pertempuran Remexio Yang Melegenda

Sekitar 75.000 tentara Ottoman ditangkap secara total setelah menyerah dalam Pertempuran Megiddo.

Nama “Pertempuran Megiddo” cukup menyesatkan, karena sangat sedikit pertempuran yang terjadi di Megiddo, tetapi Inggris memilihnya karena mereka meyakini ini telah dijanjikan dalam referensi alkitabiahnya.

Penyerahan Utsmaniyah pada 30 Oktober 1918 berarti bahwa hanya Jerman dan Austria-Hongaria yang tersisa dari Blok Sentral, yang terakhir akan segera menyerahkan diri ke Italia kurang dari seminggu kemudian.