Taliban Akan Melarang Pertanian Opium di Afghanistan

Juru bicara kelompok Taliban, Zabihullah Mujahid bersumpah untuk melarang pertanian bunga popy dan bahan dasar produksi narkotika lainya di Afghanistan, dengan mengatakan “tidak ada yang boleh terlibat” dalam perdagangan heroin.

Para pemimpin Taliban telah memberitahu para petani di provinsi selatan Kandahar untuk berhenti membudidayakan opium, menurut laporan WSJ.

Petani tidak senang tetapi tidak punya pilihan selain mematuhi jika Taliban mulai menegakkan larangan tersebut, media tersebut mengutip komentar seorang petani Kandahar yang mengatakan.

“Kami tidak bisa menentang keputusan Taliban. Mereka adalah pemerintah,” kata petani itu.

Dia menambahkan bahwa Taliban telah meyakinkan orang-orang bahwa mereka akan memiliki “tanaman alternatif”, seperti safron, untuk ditanam. Namun bunga Saffron, kurang begitu menguntungkan jika dibandingkan dengan Bunga Popy.

Larangan tanaman yang secara tradisional menjadi bagian penting dari ekonomi lokal telah mengakibatkan harga opium mentah meroket di seluruh negeri dan dunia.

Petani lokal di daerah penghasil opium seperti provinsi Kandahar, Uruzgan, dan Helman mengatakan harga opium mentah telah naik tiga kali lipat, dari sekitar $70 menjadi sekitar $200 per kilogram. Di kota utara Mazar-e-Sharif, harga opium naik dua kali lipat, menurut penduduk setempat.

Musim tanam opium akan dimulai sekitar satu bulan lagi.

“Jika Taliban melarang penanaman opium, orang akan mati kelaparan, terutama ketika bantuan internasional berhenti. Kami masih berharap mereka akan membiarkan kami menanam bunga poppy. Tidak ada yang bisa mengimbangi pendapatan yang kami dapatkan dari menanam bunga popy,” kata seorang petani popy di distrik Chora, Uruzgan, seperti dikutip dari SFT.

Baca Juga:  Minta Tambahan Anggaran, Korsel Ingin Pesawat KF-21 Boramae Dan Kapal Selam 3000 Ton Segera Jadi

Afghanistan adalah produsen opium terkemuka di dunia, dengan pangsa pasar global mencapai lebih dari 80%.

Budidaya opium menawarkan penduduk pedesaan di negara itu kecukupan ekonomi. Pada 2017, produksi opium tahunan bernilai $ 1,4 miliar, atau 7,4 persen dari produk domestik bruto Afghanistan, menurut PBB.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan