Taliban Kuasai Ibukota Kabul Afghanistan Dengan Damai

Pasukan Taliban Afghanistan akhirnya berhasil mengusai Ibukota Kabul lebih cepat dari perkiraan para analisis militer. Dalam prosesnya, mereka berhasil menaklukan Ibukota negara itu tanpa peperangan dan pertumpahan darah.

Pada 15 Agustus sore, Taliban mengumumkan bahwa mereka telah memerintahkan para “Mujahidin” untuk memasuki ibukota Afghanistan Kabul untuk “mencegah kekacauan dan pencurian”.

Untuk mencegah terjainya pertempuran, mereka sebelumnya telah memberikan peringatan pada para pasukan militer pemerintah Afghanistan dan asing untuk mengibarkan bendera putih dan tidak bergerak dari posisi masing-masing.

Para Pejuang Taliban lalu memasuki kota saat dini hari dan mengamankan pos-pos penting termasuk kantor polisi, pasar dan istana negara yang telah ditinggalkan.

Zabiullah Mujahid, juru bicara Taliban, mengatakan bahwa kelompok pejuang akan memasuki bagian-bagian tertentu dari Kabul dan mengambil alih sejumlah pos yang ditinggalkan oleh pasukan pemerintah.

Juru bicara itu kemudian menyerukan kepada penduduk Kabul “untuk tidak panik” selama pengerahan pejuang Taliban di kota itu. Taliban juga berjanji tidak akan terjadi penyerangan terhadap para polisi dan tentara pemerintah jika mereka meletakkan senjata dan mau bekerja sama selama proses pengalihan kekuasaan.

Ada sekitar 6.000 tentara asing di Afghanistan, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya NATO. Pihak Taliban telah berjanji tidak akan menyerang mereka selama proses evakuasi pada diplomat dan warga asing. Serta menjamin keamanann selama proses tersebut.

Baca Juga:  Turki Bantu Penyempurnaan Rudal S-400 Rusia Dalam Memburu F-16 dan F-35

Presiden Ashraf Ghani telah pergi ke Tajikistan menggunakan helikopter.

Ketika Taliban berhasil menguasai lagi Afghanistan, beberapa media di AS masih berusaha mati-matian untuk memutar fakta bahwa misi perang AS di negara itu telah berakhir sebagai kemenangan.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada ABC bahwa AS berhasil menyelesaikan misinya di Afghanistan.

“Ini bukan Saigon,” kata Mr. Blinken mengacu pada penarikan terkenal pasukan AS dari ibukota Vietnam pada tahun 1975. “Faktanya adalah, Kami pergi ke Afghanistan 20 tahun yang lalu dengan satu misi dalam pikiran. Itu untuk menghadapi orang-orang yang menyerang kami pada 9/11. Misi itu berhasil.”

Jatuhnya pemerintah dukungan AS di Afghanistan ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan, bahkan oleh intelijen AS. Dalam beberapa hari, Taliban menguasai sebagian besar negara itu, menyita peralatan militer yang dipasok AS senilai jutaan dolar.

Iya, Afghanistan bukan Vietnam, Kabul bukan Saigon. Tidak ada pertumpahan darah dalam proses peralihan kekuasaan ini. Tapi media barat akan selalu memberitakan bahwa Taliban itu jahad.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan