TOS-1A Buratino Rusia, Peluncur Roket Neraka

Salah satu alutsista yang diborong oleh Arab Saudi dalam kunjungan Raja Salman ke Rusia adalah TOS-1A (dalam aksara cyrilic ditulis TOC-1A) Buratino, menjadikan Arab Saudi sebagai pembeli internasional setelah Suriah dan Irak. Buratino sendiri merupakan nama Pinokio dalam versi Rusia.

TOS-1 adalah MLRS / Multiple Launcher Rocket System, peluncur roket kelas berat, yang diciptakan khusus untuk menghabisi sasaran dengan membakar area dan seisinya, termasuk musuh yang mungkin ada di dalamnya. TOS-1 yang mulai digunakan di Afghanistan begitu efektif, sehingga terus jadi andalan termasuk dalam konflik Chechnya.

Rusia memang menggunakan pendekatan yang berbeda dalam membuat senjata penyembur api yang dipasang pada kendaraan. Jika AS menggunakan bahan bakar cair yang disemprotkan dan kemudian dipantik seperti pada MBT M67 Zippo, Rusia memilih kemasan yang jauh lebih rapi, efisien, dan jauh jangkauannya dengan menggunakan roket.

Racikan FAE (Fuel-Air Explosive) dipilih sebagai senjata pembakar luar biasa yang dikemas dari mulai senjata panggul RPO-A Shmel sampai artileri roket yang digunakan oleh TOS-1 Buratino. Lebih aman saat dipindahkan dan jangkauan yang lebih jauh dari penyembur api konvensional menjadi poin plus yang ditawarkan oleh pendekatan ala Rusia ini.
Alkisah, Uni Soviet pada akhir 1980an diam-diam mengerjakan proyek artileri swagerak yang mampu menembakkan roket berhulu-ledak FAE. Uni Soviet memang percaya penuh pada kemampuan artileri roketnya, setelah dalam PD II mereka diselamatkan Katyusha dalam pengepungan di Stalingrad.

Perkembangan senjata pembakar Termobarik yang pesat pada akhir 1980an juga mendorong para Ilmuwan Rusia untuk mengembangkan konsep senjata yang bisa mengakomodasi potensinya sambil tetap menjaga keamanan kru yang menembakkannya. Maka, lahirlah konsep artileri penyembur api. Sayang, pecahnya Uni Sovyet kemudian memandulkan riset dan pengembangan militer Rusia.

Saat Rusia sebagai pembawa panji kedigdayaan Uni Soviet pelan-pelan bangkit, proyek ranpur penyembur api digali kembali. Sosoknya baru terdeteksi oleh pengamat Barat justru pada pameran pertahanan internasional di Omsk tahun 1999. Dalam pameran yang diadakan untuk ketiga kalinya di Bandar angkasa Polyot, sistem yang dikenal sebagai TOS-1 Buratino diperkenalkan oleh pabrik Omsk Transmazh.

Tidak hanya sebatas pameran statis, uji tembak bahkan diadakan di Svetly. Sasis kendaraannya Nampak benar disadur dari MBT T-72, tank tempur utama AD Rusia. Pemilihan sasis T-72 nampaknya dipilih untuk menghemat waktu pengembangan, plus memberikan proteksi yang mumpuni bagi para krunya.
Apalagi mesin diesel V-440 berdaya 840hp dianggap sangat mumpuni untuk melayani beban boks roket yang menggantikan kubah meriam. Soal kemampuan, boks roket yang pengisiannya dilakukan dari belakang ini juga mampu dirotasikan 360o seperti kubah tank. Untuk akomodasi dan pengarahan roket ke elevasi yang ditentukan, boks roket dilengkapi crane dan piston pengangkat yang dioperasikan secara hidrolik dan memiliki dua setelan kecepatan.

Baca Juga:  Senjata Baru untuk F-35 Agar Bisa Menembak Rudal Balistik Antar Benua

Layout kendali TOS-1 pun tak beda dengan T-72. Komandan dan penembak ditaruh di tengah sasis, pengemudi di depan. Kunci akurasi roket Buratino terletak pada Fire Control System di sisi penembak. Tidak lagi direpotkan dengan autoloader model carousel seperti pada T-72, penembak kini dibekali komputer balistik yang menghitung secara akurat semua varian eksternal yang mungkin berpengaruh seperti kecepatan angin, arah angin, kelembapan udara, dan sebagainya.

Komputer balistiknya dilengkapi sensor kemiringan sumbu x dan y, sehingga akurasi penembakan tak akan terpengaruh oleh posisi Buratino saat menembak. Penembak membidik lewat reflektor lensa bidik panoramik yang juga dilengkapi marka elevasi dan ketinggian, dimana penembak harus memasukkan sudut elevasi kedalam unit bidik agar komputer balistik mampu menghitung dengan tepat titik perkenaan sasaran.

Kemampuan menakutkan senjata Buratino berhasil dibungkus dalam sosok tabung roket FHS-1 berkaliber 220m, sehingga kendaraan pengangkutnya tidak perlu membawa-bawa tabung campuran bahan bakar penyembur, mengurangi resiko kerawanan saat tertembak senjata ringan. Hulu-ledak dari roket yang berbahan bakar padat ini terdiri dari campuran zat cair yang mudah terbakar (senyawa prophyl-nitrate) dan logam ringan magnesium yang mudah bereaksi dan terbakar. Pada saat roket pembawa meluncur di udara, campuran keduanya mulai bersenyawa membentuk cairan yang mudah terbakar.
Pada saat roket mencapai sasaran, kontainer campuran senyawa magnesium nitrat tersebut terbuka, menyebarkannya sehingga membentuk awan aerosol. Beberapa detik kemudian, peledak kecil di tubuh roket memantik aerosol tersebut, menghasilkan bola api raksasa secara kilat, dilanjutkan dengan gelombang kejut masif bertekanan tinggi .

Baca Juga:  India Tes Perdana Rudal Jelajah Hipersonik HSDTV

Sebagai akibatnya, tekanan di sekitar lokasi yang terpengaruh, turun drastis (kurang lebih 160mm mercury column). Perbedaan tekanan ini cukup untuk memecahkan gendang telinga, paru-paru, mata-seluruh organ yang memiliki selaput dan terisi udara. Tidak ada yang bisa menangkis efek maha dahsyat dari Fuel Air Explosive karena keberadaan oksigen yang ada di sekitar kita- selama ada udara, maka FAE akan mengejar kemanapun kita berada.

Dengan 30 roket ditembakkan ke satu titik, efek ledakannya mampu mencakup area seluas 2-3 km2, dengan killzone pada area 200x400m dari titik impak. sehingga efek penghancur Buratino boleh dibilang jauh melebihi senjata artileri roket konvensional. Nilai plus lainnya, akurasi tidak begitu berpengaruh bagi Buratino. Asalkan sasaran sudah masuk dalam cakupan kawasan ledakan, sudah pasti target tersebut akan hancur lebur. Kemampuan ofensif Buratino tersebut dapat dihela terus-menerus berkat kehadiran varian angkut munisi TZM yang bisa mengisi penuh TOS-1 untuk dapat kembali operasional.

Biarpun tanpa catatan resmi, TOS-1 yang digelar dalam batalyon kavaleri penyembur api ditengarai pernah diterjunkan dalam konflik Chechnya I maupun II. Aksinya tercium saat pemerintah Chechnya menuduh Rusia menggunakan artileri FAE saat menghancurleburkan Grozny. Jika Arab Saudi menggelar TOS-1 Buratino di Yaman, bisa terbayang kengerian apa yang akan menimpa milisi Houthi.

Dalam satu serangan yang dicirikan sebagai serangan FAE di Grozny, lebih dari 30 orang tewas dan 200 orang menderita luka bakar serius dalam sebuah ledakan yang “sangat terang dan berwarna kuning menyala” yang berbeda dengan ciri ledakan dengan sumber bahan peledak konvensional.

Kehadiran Buratino memang sukar diendus disana, karena belajar dari pengalaman penjebakan iring-iringan ranpur oleh gerilyawan Chechen, Buratino bisa dipastikan mendapat kawalan ketat dan diletakkan di tengah-tengah perlindungan kendaraan lapis baja lainnya. Pun untuk digelar, Buratino masih bisa melakukannya dari jarak yang lebih aman di garis belakang. Mengingat reputasi tak kenal ampun dari pasukan Rusia, boleh jadi serangan roket Buratino adalah representasi dari maut itu sendiri: datang bak pencuri di malam hari.

Sumber : UC News / Aryo Nugroho

3 Komentar

  1. Dipikir dulu beli itu buat apa, senjata yang sejahat itu tidak baik. apalagi nanti digunakan untuk membunuh rakyat tak berdosa dan banyak kemungkinan senjta atau rudal lain sebagai alternativ

    Walau terlihat kuat namun penggunaan senjata berat seperti ini akan mengguncang ASEAN jika dibeli secara terbuka,oleh TNI dan terlebih lagi oleh negara2 yang menjadi musuh potensial NKRI

    saat ini yang diperlukan TNI adalah KUANTITAS alustita Udara dan Laut dua matra ini sudah saatnya di perbanyak menyambut ketegangan akhir2 ini di kawasan ASEAN yang sulit ditebak.

Tinggalkan Balasan