Turki Mulai Gerah Dengan Dukungan Rusia Untuk Kaum Kurdi

Entah dosa apa leluhur bangsa Kurdi terhadap Bangsa Turki. Wilayah Kurdistan yang didiami Bangsa Kurdi saat ini terpecah ke dalam empat negara, Irak, Suriah, Turki dan Iran. Tapi dalam kebijakan Turki, semua kelompok perlawanan bangsa Kurdi adalah “teroris” di mana pun mereka berada, atas alasan itu Turki menginvasi Provinsi Idlib di Suriah yang didiami mayoritas bangsa Kurdi.

Langkah-langkah yang diambil Rusia pekan lalu di Suriah utara tak luput dari perhatian Turki.

Pertama, ada laporan bahwa Rusia mengintensifkan kehadiran militernya di sepanjang perbatasan ke wilayah timur Sungai Efrat yang berada di bawah kendali Amerika Serikat dan menurut klaim Turki di sana ada cabang PKK (Partai Komunis Kurdi Turki) cabang Suriah yaitu YPG yang dicap sebagai kelompok teroris.

Kedua, delegasi yang dipimpin oleh Ilham Ahmed, salah satu pemimpin YPG, akan mengunjungi Moskow untuk mengadakan pembicaraan, jaringan media Kurdi Rudaw melaporkan Senin.

Perkembangan terakhir menunjukkan peningkatan mobilitas militer Rusia di medan Suriah, terutama baru-baru ini, sebagai kontra dari operasi militer Turki.

Unit militer Rusia telah mulai berpatroli di garis demarkasi antara daerah yang dikendalikan oleh pasukan koalisi pimpinan AS dan pasukan Rusia di Suriah timur, kata pejabat Rusia, Senin.

Pasukan Rusia telah menggantikan pasukan AS saat mereka mundur dari beberapa pangkalan menyusul peluncuran Operasi Mata Air Perdamaian Turki pada 9 Oktober 2019, melawan teroris YPG di timur laut Suriah.

Baca Juga:  Saat Netizen Filipina Ngiri Dengan Militer Indonesia

Sejak itu, Rusia terus mengintensifkan kehadiran militernya di timur sungai Efrat, termasuk di daerah-daerah di bawah kendali YPG, meningkatkan jumlah pangkalan dan pos militernya.

Saat ini terdapat 18 pangkalan dan pos militer Rusia di daerah-daerah di bawah kendali YPG di sebelah timur Efrat, yaitu di Hassakeh, Raqqa, Manbij dan Ain al-Arab (Kobani) di Aleppo.

Namun, terlepas dari semua ini, Moskow tetap sangat enggan untuk mencegah serangan YPG/PKK di daerah-daerah yang dikendalikan oleh Turki karena perjanjian dengan Ankara.

Salah satu alasan utama di balik unjuk kekuatan Rusia di wilayah timur Efrat mungkin karena ingin mengirim pesan ke Washington mengenai masalah Ukraina. Upaya Washington untuk memblokade Kremlin melalui NATO, yang telah memantau ketegangan antara Moskow dan Kyiv baru-baru ini, juga diamati dengan cermat.

Dengan kata lain, ini mengingatkan kemungkinan bahwa Moskow dapat mengejar kebijakan keseimbangan kekuatan dengan meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, terutama dalam menghadapi ketegangan di Laut Hitam.

Bahkan, tidak mengherankan dari sudut pandang ini bahwa Moskow di satu sisi membangun benteng militernya, sementara di sisi lain mengintensifkan negosiasi politiknya dengan perwakilan kelompok Kurdi (yang diklaim teroris oleh Turki) untuk menjaga kepentingannya di Timur Tengah, khususnya Suriah.

Dengan pembicaraan dengan YPG/PKK ini, Rusia juga ingin menjaga perwakilan kelompok Kurdi, yang juga bekerja sama erat dengan AS. Tapi kelakuan Moskow untuk juga bisa membuat marah Turki, pemain terbesar lainnya di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Dinilai Mirip Prabowo, Jenderal Gatot Nurmantyo Terus Kobarkan Semangat Anti Penjajah

Dalam pengertian ini, satu-satunya perbedaan antara AS dan Rusia adalah bahwa sementara yang pertama mengakui memberikan dukungan politik, yang terakhir menyangkal klaim bahwa mereka menyediakan senjata untuk mendukung organisasi Kurdi yang dibenci Turki.

Hubungan kelompok Kurdi ini emang ruwet. Turki ingin seluruh kelompok bersenjata Bangsa Kurdi (baik di Suriah maupun Irak) dimasukkan sebagai kelompok teroris seperti PKK di Turki. AS dan Eropa sendiri telah memasukkan PKK sebagai kelompok teroris namun tidak dengan kelompok pejuang Kurdi di Suriah (YPG) dan Irak (Pashmerga), dua kelompok terakhir mendapat bantuan militer dari keduanya. Sedangkan Rusia, selain tidak menganggap PKK sebagai organisasi teroris, Moskow bahkan mengizinkan organisasi teroris itu membuka kantor di negaranya.

Presiden Turki Erdogan menyuarakan keprihatinannya mengenai kehadiran YPG/PKK di Moskow dan mengatakan kepada Putin bahwa kedua negara perlu lebih meningkatkan kerja sama dalam memerangi terorisme.

Ruwet

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan