Veteran AL Amerika Ungkap Bahaya Kapal Perang Saat Bersandar

Terbakarnya kapal USS Bonhomme Richard (LHD-6) di Naval Base San Diego pada tanggal 12 Juli 2020 lalu membingungkan banyak orang. Bagaimana mungkin kapal yang berada dalam pangkalan angkatan laut di pesisir kota US sendiri dapat mengalami kebakaran yang sulit dipadamkan? Veteran sonarman US Navy, Aaron “JiveTurkey” Amick memberikan penjelasan mengenai hal tersebut, dimana kapal perang memang justru menjadi rentan mengalami bencana ketika bersandar di pelabuhan.

Sebelum terjadinya kebakaran, USS Bonhomme Richard sedang menjalani periode maintenance signifikan di galangan kapal General Dynamics NASSCO, dan kemudian digeser ke Pier 2 Naval Base San Diego. Saat menjalani maintenance banyak sistem kapal yang dimatikan. Kapal akan dipenuhi dengan personnel galangan kapal yang mengerjakan tugas-tugas mereka. Dalam keadaan ini, dek kapal akan ramai dengan awak pengelas yang memasang welding fixture ke outboard, cutting torch yang digunakan untuk melepas mount lama, gerinda yang memancarkan percikan dan diamankan dengan kain tahan api, serta beragam workspace debris lainnya. Ada juga personnel yang mengerjakan hal-hal lain seperti sistem kabel dan AC.

Pada saat maintenance, lorong kapal penuh dengan kabel-kabel sistem penerangan sementara. Ada selang-selang ventilasi berwarna hitam yang ditandai dengan tali berwarna putih. Panel alarm dan selang pemadam sementara ditempatkan di lokasi penting. Jika hal-hal ini diperlukan di dek bawah, beberapa palka akan digunakan hingga ‘tersumbat’ dan tidak bisa diakses personnel. Hasilnya, ruang di koridor kapal sangat terbatas dan kemampuan personnel untuk bergerak antar level pun minim. Setiap hari mereka harus berjibaku melewati hatch yang sempit, memakai tangga untuk berpindah level agar dapat bergerak ke tempat kerja.

Ketika kapal berada dalam periode maintenance jangka panjang, kapal selalu berada dalam keadaan kotor. Begitu kapal menjalani refit sudah dipastikan kapal akan dipenuhi debu, minyak, serutan dan serat di pojokan maupun celah-celah. Jika tidak diperhatikan, debris ini dapat menimbulkan kebakaran. Lingkungan kerja yang berisik, ramai, panas dapat memunculkan resiko kebakaran di atas kapal. Kapal yang bersih adalah kapal yang tahan api.

Tidak hanya faktor alat dan sampah, faktor manusia juga berpengaruh terhadap resiko kebakaran kapal di pelabuhan. Ketika kapal berada lama di pelabuhan, terjadi rotasi dimana para pelaut berpengalaman turun dari kapal. Awak baru yang melapor ke kapal saat maintenance bisa jadi sudah tidak melaut cukup lama, atau bahkan belum pernah melaut. Mereka akan kesusahan bergerak ke workspace mereka dan belum pernah melihat ruangan-ruangan kapal dalam kondisi maintenance. Kurangnya familiaritas terhadap kapal menciptakan penundaan dalam merespon situasi gawat.

Baca Juga:  India Berharap Filipina Segera Beli Rudal Brahmos Tahun Ini

Awak kapal yang tidak dirotasi biasanya ditempatkan di komando laut lain untuk mendapatkan pengalaman dan profisiensi. Selain berkurangnya awak kapal yang berpengalaman, jumlah awak kapal saat maintenance juga berada di bawah jumlah awak normal. Awak kapal yang baru datang diberikan tanggung jawab atas kapal besar yang tidak mereka kenal dan berada dalam keadaan kacau-balau. Lingkungan seperti ini dapat memunculkan masalah disiplin, dimana ketika awak melihat sistem-sistem kapal diangkut mereka paham bahwa mereka tidak akan berada di laut selama berbulan-bulan sehingga tingkat keseriusan dan motivasi turun.

Lalu apakah menggeber dan memotivasi pelaut lebih keras menyelesaikan masalah? Tidak juga. Moral akan turun ketika awak digeber di pelabuhan karena awak melihat bahwa ‘serius’ di laut seharusnya berbeda dengan ‘serius’ di darat. Turunnya moral menular di antara awak. Pertama awak akan tidak fokus saat latihan atau bekerja, lalu datang terlambat atau bahkan bolos. Seragam pelaut terlihat kotor dari pekerjaan di kapal yang dilakukan harian. Ini menyebabkan terjadinya penurunan performa semakin lama kapal berada di pelabuhan untuk maintenance.

Justru di laut, kebakaran di atas USS Bonhomme Richard bisa jadi dapat ditanggapi dengan lebih baik. Kapal dipenuhi dengan pelaut yang berpengalaman yang dapat mengenali situasi gawat lalu merespon sebelum situasi tidak terkendali. Seluruh awak terlatih untuk bekerjasama dengan latihan yang diberikan dengan baik. Tim maupun peralatan damage control akan tersedia di atas kapal dengan tingkat pelatihan, motivasi serta kuantitas yang cukup. Kapal tidak dipenuhi dengan kabel-kabel dan ventilasi yang menghalangi lorong-lorong dan sistem pencahayaan kapal dinyalakan. Kapal lebih mudah dibersihkan dan ini mencegah terjadinya kebakaran bahan buangan.

Baca Juga:  Gandeng Kuba, Vietnam Luncurkan Meriam Angkut SP Howitzer Buatan Dalam Negeri

Kebakaran di atas Bonhomme Richard nampaknya berawal dari maintenance debris yang tidak diawasi di area penyimpanan kendaraan. Apabila kapal berada di laut, ruang ini digunakan dan dapat dipastikan akan diawasi dengan baik.

Amick menutup penjelasan yang ia berikan dengan sebuah pertanyaan dan saran: Bagaimana apabila Bonhomme Richard adalah kapal bertenaga nuklir? Kapal bertenaga nuklir di bawah Naval Nuclear Propulsion Program justru memiliki standar operasi terbaik di US Navy. Mau itu kegiatan maintenance tahunan atau bahkan hanya sekedar valve maintenance, pasti setidaknya ada dua orang yang beroperasi secara reader-worker. Ini menumbuhkan akuntabilitas bagi sesama awak dan bagi tingkat kesiapan tempur kapal, sehingga menyadarkan para pelaut akan pentingnya kerja keras. Kerja keras menimbulkan rasa bangga bagi pelaut yang menuntaskan pekerjaannya, dan rasa bangga ini meningkatkan moral.

Lingkungan kapal bertenaga nuklir pada saat refit juga lebih tertib. Kapal bertenaga nuklir bukanlah tempat penyimpanan alat atau tempat membuang sampah. Awak yang turun pasti akan membawa semua milik mereka keluar dari kapal. Artinya saat refit, kardus-kardus serta peti ditinggal di dermaga. Peralatan serta kain berada di tangan para pekerja setiap saat, tidak disimpan di atas kapal. Kebersihan di atas kapal bukan hanya soal higienis, namun soal keamanan. Debu yang terakumulasi dapat menjadi tinder (rabuk). Kain yang berminyak dapat terbakar karena reaksi kimia. Workspace harus diinspeksi setiap selesai kerja di bawah pengawasan, dan biasanya tugas ini jatuh kepada Chief Petty Officer.

“Nuclear Navy” memiliki standar yang sangat tinggi, baik di galangan maupun di laut, saat konstruksi, perawatan hingga operasi. Standar maupun performa awak selalu direview tahunan oleh tim inspeksi Operational Reactor Safety Examination, dan agar kapal dapat beroperasi standar ORSE harus dipenuhi. Kultur yang ditumbuhkan di kalangan ini bersifat bersih, aman dan memiliki performa tinggi. Amick menyarankan bahwa mungkin sudah waktunya standar seluruh kapal US Navy disetarakan dengan standar Naval Nuclear Propulsion Program.

Sumber: FB Lighting II Chan -Hex

https://www.thedrive.com/the-war-zone/34832/veteran-sailor-on-why-navy-ships-can-be-most-vulnerable-in-port-and-how-to-change-that

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan