Yordania Bisa Bikin Roket Anti Tank Dengan Bantuan Rusia, Indonesia Kapan?

Selama ini Indonesia masih mengimpor soal urusan roket panggul anti tank. Seperti RPG-7, Instalaza C90, Queen Bee, FGM-142 Javelin, dan NLAW yang sudah dimiliki oleh TNI namun semuanya masih impor, belum bisa bikin sendiri dan tak ada alih teknologi.

Senjata anti tank sama pentingnya dengan keberadaan tank itu sendiri. Kita tentu masih ingat perang terakhir Israel melawan Hizbullah di Lebanon. Tank sekaliber Merkava dengan active dome-nya pun rontok dihancurkan gerilyawan Hizbullah dalam perang tersebut. Laju pasukan Israel pun terhambat, formasi kavaleri pun berantakan.

PT. Pindad selaku produsen utama untuk senjata kavaleri darat juga belum melirik soal senjata ini.

Padahal sebagai produsen tank, ya seharusnya memikirkan juga memproduksi senjata anti tank.
Ambil contoh soal tank medium (Harimau Hitam), produksi terbaru Pindad yang telah dipamerkan di HUT TNI ke-72, Pindad seharusnya bisa membuat senjata anti tank untuk tank kelas medium karena susah tahu karakteristik sasaranya

Apa mungkin karena terlalu berorientasi ke negara Barat?

Padahal Rusia, bapaknya RPG, mau berbagi alih teknologi dengan murah meriah bahkan sukarela.

Contohnya Yordania, yang langsung punya program produksi rudal anti tank RPG-32 Hashim (dinamai seperti Dinasti Hashemite/ Hasyim yang berkuasa di Yordania) dan kemudian diubah menjadi Nash-Shab (busur silang). Sistem rudal antitank ini disadur dari RPG-32 Barkas buatan pabrikan Bazalt Rusia.

Baca Juga:  Inggris Beberkan Rencana Pertahanan Luar Angkasa

RPG-32 sendiri menjadi SLT yang dikembangkan berdasar spek dan keinginan Yordania di Rusia, karena keterbatasan kemampuan Yordania, tetapi fabrikasinya dilakukan oleh perusahaan Jadara (JRESCO) yang ada di dalam negeri Yordania. Biaya pengembangan sepenuhnya ditanggung Yordania, dan sebagai gantinya, semua kemauan dan know how yang diminta Yordania pun dipenuhi.

Ini sebenarnya sama dengan skema pengembangan tank medium Harimau Hitam (nama tentatif Pindad) dimana Indonesia menyediakan dan berbagi dana riset dengan perusahaan Turki FNSS yang kemudian mengembangkan tank medium tersebut dari basis produk Kaplan yang dimiliki perusahaan tersebut. Apa susahnya dilakukan untuk senjata lawan tank yang sistemnya lebih sederhana dari sebuah tank?

Karena Yordania ingin RPG-32 serbaguna, maka disiapkan empat macam hululedak, dua kaliber 105mm dan dua lagi 72mm. Kaliber yang lebih besar yaitu PGV-32V dengan hululedak ganda untuk melawan tank, sementara yang lebih kecil untuk menghancurkan perkubuan. PGV-32V sendiri memiliki efektivitas dan akurasi sampai jarak 200 meter, dengan daya penetrasi 650mm RHA (Rolled Homogeneous Armor) dengan hululedak HEAT yang dimilikinya.

RPG-32 memiliki bentuk yang unik. Roketnya dikemas dalam tabung kedap air, dan tinggal dihubungkan ke unit silinder peluncur 6G40 yang berisi picu elektrik dan optik bidik. Kalau roketnya sudah ditembakkan, tabungnya tinggal dibuang dan diganti dengan tabung roket baru ke silinder peluncur yang bisa dipakai ulang. Bila perlu, empat RPG-32 (quad) bisa digabungkan menjadi satu unit peluncur pedestal yang dilengkapi kamera termal dan dikendalikan dari jarak jauh.

Baca Juga:  ALE-70, Internal Towed Decoy System Milik Pesawat F-35

Produksi RPG-32 sendiri dimulai di fasilitas Jadara pada tahun 2013 dari kit yang disediakan Bazalt, dan perlahan sebagian komponen mulai dibuat sendiri, termasuk sistem Quad yang dirilis pada 2016. Kapasitas produksi pabrik JRESCO sendiri mencapai 60 ribu hululedak RPG-32 setiap tahunnya.
Yordania sendiri mengirimkan RPG-32 ke sejumlah milisi anti Houthi seperti grup Ansar al-Sharia yang berperang di Yaman untuk membantu mereka mengalahkan Houthi yang dibekingi Iran, serta ke pejuang YPG Kurdi yang bertempur melawan ISIS di Irak. (Aryo Nugroho/UC News)

Posted : RC/TSM/https://c.uctalks.ucweb.com/personal/index/5b06b80848d544f1bc567558ff4e8b19

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan